2008-07-14 20:39:00 di copy dari www.republika.co.id
Sombong adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua. Benih kesombongan terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibanding orang lain. Dan di tingkat ketiga, sombong disebabkan faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Kita sebenarnya terdiri atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, nafsu lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik semata, tetapi makhluk spiritual. Kita lahir dengan tangan kosong, dan kita pun akan meninggal dengan tangan kosong. ''Sesungguhnya kami adalah milik Tuhan dan kepada-Nyalah kami kembali.'' (QS Al-Baqarah [2]: 156)
sebuah blog untuk alumnus STAN Prodip I Bea Cukai (khususnya angkatan VII Nasional atau angkatan IV Makassar)
Rabu, 16 Juli 2008
Kamis, 10 Juli 2008
Ayo Hemat!
Oleh Eko Prasetyo
Diambil dari eramuslim.com
Keluar yang baru, ngebet ingin ganti. Tidak bisa beli cash, dibela-belain tukar tambah atau mencicil secara kredit. Inilah gambaran tentang handphone yang telah menjadi seperti mode. Berkat kecanggihan teknologi, handphone yang dulu hanya bisa untuk menelepon dan SMS mulai ditambahi feature lain seperti kamera, pemutar musik dan video, internet, serta lain-lain.
Banyak masyarakat kita yang menjadi korban mode dari HP. Dalam artian, handphone dianggap memiliki prestise. Dulu, tidak banyak orang memegang HP. Namun, sekarang HP jelas bukan barang yang mewah lagi. Tidak hanya para eksekutif yang bisa menikmati layanan berkomunikasi via telepon seluler. Tapi, anak SD hingga tukang ojek pun ke mana-mana bisa pegang benda tersebut.
Betapa HP terkadang bisa membuat orang terbius. Bahkan, orang bisa minder hanya karena HP-nya dirasa tidak up to date alias masih memakai HP jadul (lawas). Kini, bisa dijumpai pedagang sayur keliling bisa melayani pembeli sambil ber-HP atau pengamen di bus kota menenteng HP di pinggangnnya. Seakan, itu sudah biasa kita jumpai. Padahal, budget untuk membeli pulsa tidaklah sedikit, bahkan terkadang bisa setara dengan pengeluaran bensin sebulan.
Zaman sekarang HP begitu digilai. Gonta-ganti HP dianggap menjadi tren masa kini. Mengherankan sekali, orang bisa membeli HP di atas satu atau dua juta rupiah, tetapi mengeluarkan infak sebulan masih antara iya dan tidak. Kadang, orang mampu menganggarkan pulsa Rp 100 ribu atau lebih per bulan, namun anggaran untuk zakat enggan dilaksanakan. Masya Allah. Orang seolah telah melupakan esensi HP itu sendiri: yakni sebagai alat komunikasi.
Tanpa disadari, kepentingan yang baik untuk diutamakan lebih dulu terkadang kalah dengan kepentingan pribadi yang sebenarnya bisa ditunda. Banyak orang membeli sesuatu karena keinginan, bukan disebabkan kebutuhan. Akibatnya, konsumerisme nyaris jadi budaya. Gengsi memiliki HP mahal mengalahkan urgensi terhadap kebutuhan yang lain. Islam senantiasa menganjurkan agar manusia benar-benar memperhatikan masalah keseimbangan dan keadilan.
Suatu saat, saya pergi ke mal untuk mampir ke toko buku. Di sana, saya memperhatikan beberapa counter HP yang tak surut dari pengunjung yang bertransaksi atau sekadar melihat-lihat. Iseng, saya ikut melihat ke salah satu counter. Dua buah ponsel second di kisaran Rp 1, 4 juta yang dipajang telah dibeli pengunjung di situ. Saya sempat bengong dan termangu sejenak melihat ponsel yang saya pegang. Ponsel di genggaman ini bukan ponsel dengan fitur lengkap. Tak ada kamera atau pemutar musik. Harganya pun tak sampai Rp 400 ribu. Tapi, bukankah ponsel ini dibeli bukan untuk gaya-gayaan? Jadi, buat apa ikut-ikutan membeli barang yang sebetulnya tidak urgen untuk dibeli.
“Jangan selalu melihat orang di atasmu, tapi lihat juga orang di bawahmu, ” begitu pepatah bijak. Maksudnya, kita jangan mudah silau dengan orang yang memiliki kelebihan dan bisa beli ini itu. Tapi, kita juga perlu menatap orang-orang yang hidup berkekurangan.
Karena itu, syukur nikmat kepada Allah SWT adalah hal yang penting. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara demikian.” (Al-Furqan: 67). Dengan ayat tersebut, jelas sudah bahwa hidup hemat adalah sesuatu yang mesti diterapkan dalam kehidupan. Hidup seimbang dan tak berlebih-lebihan serta tak alpa dalam berinfak. HP baru? Enggak dulu deh..
prasetyo_pirates@yahoo.co.id
Diambil dari eramuslim.com
Keluar yang baru, ngebet ingin ganti. Tidak bisa beli cash, dibela-belain tukar tambah atau mencicil secara kredit. Inilah gambaran tentang handphone yang telah menjadi seperti mode. Berkat kecanggihan teknologi, handphone yang dulu hanya bisa untuk menelepon dan SMS mulai ditambahi feature lain seperti kamera, pemutar musik dan video, internet, serta lain-lain.
Banyak masyarakat kita yang menjadi korban mode dari HP. Dalam artian, handphone dianggap memiliki prestise. Dulu, tidak banyak orang memegang HP. Namun, sekarang HP jelas bukan barang yang mewah lagi. Tidak hanya para eksekutif yang bisa menikmati layanan berkomunikasi via telepon seluler. Tapi, anak SD hingga tukang ojek pun ke mana-mana bisa pegang benda tersebut.
Betapa HP terkadang bisa membuat orang terbius. Bahkan, orang bisa minder hanya karena HP-nya dirasa tidak up to date alias masih memakai HP jadul (lawas). Kini, bisa dijumpai pedagang sayur keliling bisa melayani pembeli sambil ber-HP atau pengamen di bus kota menenteng HP di pinggangnnya. Seakan, itu sudah biasa kita jumpai. Padahal, budget untuk membeli pulsa tidaklah sedikit, bahkan terkadang bisa setara dengan pengeluaran bensin sebulan.
Zaman sekarang HP begitu digilai. Gonta-ganti HP dianggap menjadi tren masa kini. Mengherankan sekali, orang bisa membeli HP di atas satu atau dua juta rupiah, tetapi mengeluarkan infak sebulan masih antara iya dan tidak. Kadang, orang mampu menganggarkan pulsa Rp 100 ribu atau lebih per bulan, namun anggaran untuk zakat enggan dilaksanakan. Masya Allah. Orang seolah telah melupakan esensi HP itu sendiri: yakni sebagai alat komunikasi.
Tanpa disadari, kepentingan yang baik untuk diutamakan lebih dulu terkadang kalah dengan kepentingan pribadi yang sebenarnya bisa ditunda. Banyak orang membeli sesuatu karena keinginan, bukan disebabkan kebutuhan. Akibatnya, konsumerisme nyaris jadi budaya. Gengsi memiliki HP mahal mengalahkan urgensi terhadap kebutuhan yang lain. Islam senantiasa menganjurkan agar manusia benar-benar memperhatikan masalah keseimbangan dan keadilan.
Suatu saat, saya pergi ke mal untuk mampir ke toko buku. Di sana, saya memperhatikan beberapa counter HP yang tak surut dari pengunjung yang bertransaksi atau sekadar melihat-lihat. Iseng, saya ikut melihat ke salah satu counter. Dua buah ponsel second di kisaran Rp 1, 4 juta yang dipajang telah dibeli pengunjung di situ. Saya sempat bengong dan termangu sejenak melihat ponsel yang saya pegang. Ponsel di genggaman ini bukan ponsel dengan fitur lengkap. Tak ada kamera atau pemutar musik. Harganya pun tak sampai Rp 400 ribu. Tapi, bukankah ponsel ini dibeli bukan untuk gaya-gayaan? Jadi, buat apa ikut-ikutan membeli barang yang sebetulnya tidak urgen untuk dibeli.
“Jangan selalu melihat orang di atasmu, tapi lihat juga orang di bawahmu, ” begitu pepatah bijak. Maksudnya, kita jangan mudah silau dengan orang yang memiliki kelebihan dan bisa beli ini itu. Tapi, kita juga perlu menatap orang-orang yang hidup berkekurangan.
Karena itu, syukur nikmat kepada Allah SWT adalah hal yang penting. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara demikian.” (Al-Furqan: 67). Dengan ayat tersebut, jelas sudah bahwa hidup hemat adalah sesuatu yang mesti diterapkan dalam kehidupan. Hidup seimbang dan tak berlebih-lebihan serta tak alpa dalam berinfak. HP baru? Enggak dulu deh..
prasetyo_pirates@yahoo.co.id
Sabtu, 05 Juli 2008
Rezeki Tanpa Batas
Oleh Muhammad Rizqon
(Diambil dari eramuslim.com)
Malam itu, jalan di depan rumah saya yang biasanya ramai di waktu berangkat atau pulang sekolah/kerja, sudah mulai menyepi. Hanya ada beberapa gelintir saja kendaraan atau orang yang lalu lalang. Beberapa penjaja makanan pun sudah mulai berkurang. Tidak jauh dari rumah, nampak beberapa pedagang nasi goreng, serempak berhenti di warung indomie dengan meninggalkan gerobak di pinggir jalan. Mereka berhenti sekedar minum kopi atau menikmati gorengan setelah sekian lama berjalan menjajakan dagangan. Pemandangan itu adalah pemandangan yang sering saya lihat setiap malam, ketika hendak memasukkan kendaraan ke dalam rumah atau menutup pintu pagar.
Jalan di depan rumah saya adalah jalan yang tidak pernah sepi. Tidak jauh dari rumah ada pasar tradisional yang beroperasi 24 jam. Sementara banyak penduduk di sekitar rumah yang berprofesi sebagai pedagang di pasar atau pedagang di tempat lainyang memerlukan bahan-bahan baku dari pasar tradisional itu. Maka lalu lintas orang dan barang pun tidak pernah berhenti melewati depan rumah menuju atau pulang dari pasar. Lalu lintas kendaraan di jalan utama pun tidak pernah sepi. Banyak para pedagang di pasar tradisional itu mengambil barang kulakan dari sebuah pasar induk yang ditempuh dengan satu rit angkottrayekPondok Gede-Kampung Rambutan. Karena sumber pasokan barangberasal dari sana, maka ritme pasar tradisional itu pun mengikuti ritme pasar induk yang juga beroperasi 24 jam.
Malam itu sekitar pukul sepuluh malam, saya menyaksikan pemandangan yang cukup membuka mata dan hati saya. Beberapa orang tetangga yang baru saya kenal, berparade menentang bungkusan plastik dan beberapa barang yang tidak saya ketahui persis apa isinya. Semula saya berpikir mereka habis berbelanja “besar-besaran” untuk kebutuhan rumah tangga karena tidak jauh dari rumah memang banyak bertebaran pusat perniagaan yang menjajakan aneka barang kebutuhan. Hatipun jadi terusik dan bertanya karunia apakah gerangan yang menjadikan mereka bisa membeli barang demikian banyak itu.
Saya hanya menyapa singkat ketika mereka melewati depan rumah dan tidak begitu memperhatikan apa yang mereka bawa. Namun pemandangan yang terpotret sekilas itu menimbulkan beberapa kejanggalan atas dugaan saya yang pertama. Bungkusan yang mereka bawa itu bukanlah bungkusan plastik putih yang biasanya berlabel nama toko atau swalayan. Mereka juga tidak mengenakan pakaian sebagaimana layaknya untuk mendatangi tempat belanja. Saya bersangka baik, mereka bukan habis berbelanja dari pusat perbelanjaan melainkan habis berbelanja dari pasar tradisional itu. Toh untuk pergi ke sana tidak harus menggenakan pakaian yang bagus atau teramat sopan. Mengenakan kaos dan celana setinggi lutut pun jadi. Terlebih jika suasana hujan, tentu bagi mereka lebih praktis menggunakan busana yang ala kadarnya dan terkesan kumal karena harus berjibaku dengan tanah pasar yang becek dan kotor.
Ketika saya berjumpa, wajah mereka terpancar menyiratkan rona penuh suka cita. Belakangan saya menyadari bahwa mereka baru pulang dari memulung gelas/botol air mineral yang berserakan di sekitar pasar atau plaza. Saya mengetahuinya ketika pada suatu hari, ada mobil dengan perlengkapan timbangan gantung parkir di depan rumah. Banyak orang mengerumuni mobil dengan timbangan itu. Mereka menimbang karung berisi gelas/botol air mineral, kardus, koran atau barang loakan lainnya. Setelah dilakukan penimbangan, barang-barang itu langsung dimuat ke mobil dan ada seorang yang menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang dibeli dan diangkutnya itu.
Nuansa ceria mewarnai suasana setelah transaksi itu dilakukan. Barulah saya menyadari ternyata mereka habis bertransaksi atas barang-barang hasil pulungan, termasuk barang-barang yang mereka bawa setiap malam sehabis “berbelanja” itu. Hati saya jadi tercekat. Sungguh, mereka telah memberikan pelajaran yang berharga bagi saya.
Tidak sulit bagi Allah untuk membukakan jalan-jalan rezeki. Allah menyediakan beribu jalan rezeki bagi seseorang yang mau berusaha dan mau menjemputnya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan makhluk, tentu menyediakan pula bagi mereka takaran rezekinya masing-masing. Para tetangga yang berprofesi sambilan sebagai pemulung itu, adalah salah satu contoh saja. Betapa barang-barang itu yang bagi orang lain terasa jijik untuk menyentuhnya atau menjadi barang yang terbuang sia-sia, ternyata mendatangkan keberkahan tersendiri bagi mereka. Darinya mereka bisa mempertahankan hidup, darinya mereka bisa memenuhi kebutuhan, dan darinya mereka bisa merasakan nikmatnya bersyukur. Subhanallah.
Kadang timbul rasa malu diri ini kepada mereka. Mereka yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa, tidak makan bangku sekolahan, tidak terdidik layaknya kita, tetapi mereka lebih yakin akan jaminan rezeki dibanding kita. Banyak dari kita yang kadang stress memikirkan sumber penghasilan, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Banyak pula di antara kita yang kehilangan akal sehingga terpaksa menempuh cara-cara yang tidak sesuai dengan norma agama. Andai kita tahu, sebenarnya kita hanya diperintahkan untuk berusaha atau bekerja saja. Sedangkan hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Banyak atau sedikit hendaknya diterima dengan ridha. Masalah sering muncul tatkala kita menginginkan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu belum tentu terbaik bagi kita.
Para “pemulung” tetangga rumah saya itu, hidup tenang dan tentram karena tidak mempersoalkan kesulitan rezeki dan menyambut karunia Allah itu dengan sikap ridha. Tidak mempersoalkan rezeki bukan berarti tidak mempersoalkan berusaha. Ia adalah sebuah keharusan, dan menjadi prosedur wajib bagi datangnya rezeki. Kita dianjurkan untuk berfokus pada ketaatan dan ibadah, sebab misi itulah yang kita sandang sebagai manusia dalam kehidupan ini. Rezeki adalah otoritas Allah. Dengan berfokus pada ketaatan, maka secara otomatis, rezeki akan mengalir sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Mencari kerja (bagi mereka yang masih nganggur) adalah sebentuk ketaatan dan ibadah, mereka yang pergi berniaga ke pasar, pergi ke kantor, berkeliling menjajakan barang dagangan adalah juga sebentuk ketaatan dan ibadah, dan segala macam ikhtiar yang diniatkan kepada Allah adalah sebentuk ibadah.
Manusia yang berfokus pada ibadah dan ketaatan (berfokus pada proses) tentu beda dengan orang yang berfokus pada hasil. Mereka yang berfokus pada proses, tentu akan menjaga agar proses yang dijalani adalah benar sesuai ketentuan Allah. Sedangkan mereka yang berfokus pada hasil, boleh jadi upaya-upaya terpuji akan dike sampingkan demi meraih apa yang diimpikan.
Mereka yang berfokus pada ibadah dan ketaatan, ketika mendapat rezeki melimpah pun, mereka tetap terkendali dan tidak takabbur. Sahabat Rasulullah seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan, adalah orang-orang yang dikaruniai kekayaan dan keagungan harta oleh Allah. Namun demikian, mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah Saw karena keagungan akhlaknya. Mereka juga dicintai orang-orang miskin karena mereka tidak takabbur dengan hartanya dan membelanjakan sebagian besar kekayaannya untuk kepentingan dakwah dan ummat.
Bila harta itu jatuh kepada mereka yang memang berorientasi kepada kekayaan semata, tentu akan lain hasilnya. Boleh jadi ia akan takabbur dan menjauh dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Kisah Tsa’labah di masa Rasulullah Saw dan kisah Qorun di masa Nabi Musa, adalah salah satu bukti tentang akibat dari orang-orang yang berfokus pada kekayaan semata bukan kepada ibadah atau ketaatan. Pada akhirnya mereka akan tumbang karena berdiri di atas pijakan yang lemah.
Sungguh banyak hikmah yang saya peroleh dari para “pemulung’” itu. Allah sanggup memberikan rezeki tanpa batas kepada hamba-Nya. Kaya atau miskin adalah ujian kehidupan. Jika kita berfokus pada ibadah atau ketaatan maka status itu pun menjadi kurang relevan karena bagi orang beriman baik dalam kondisi kaya atau pun miskin tetap harus mencurahkan pengabdiannya kepada Allah SWT. Kenapa bisa demikian? Karena bagi orang beriman, rezeki tanpa batas yang sebenarnya adalah bukan yang di dunia melainkan di akhirat, yaitu ketika ia dimasukkan ke dalam surga karena ibadah dan ketaatannya di dunia.
Ya Allah karuniakan kami dengan Iman, karuniakan kami dengan rezeki-Mu yang tanpa batas. Amin.
Waallahua’lam bishshawaab [rizqon_ak@eramuslim.com]
(Diambil dari eramuslim.com)
Malam itu, jalan di depan rumah saya yang biasanya ramai di waktu berangkat atau pulang sekolah/kerja, sudah mulai menyepi. Hanya ada beberapa gelintir saja kendaraan atau orang yang lalu lalang. Beberapa penjaja makanan pun sudah mulai berkurang. Tidak jauh dari rumah, nampak beberapa pedagang nasi goreng, serempak berhenti di warung indomie dengan meninggalkan gerobak di pinggir jalan. Mereka berhenti sekedar minum kopi atau menikmati gorengan setelah sekian lama berjalan menjajakan dagangan. Pemandangan itu adalah pemandangan yang sering saya lihat setiap malam, ketika hendak memasukkan kendaraan ke dalam rumah atau menutup pintu pagar.
Jalan di depan rumah saya adalah jalan yang tidak pernah sepi. Tidak jauh dari rumah ada pasar tradisional yang beroperasi 24 jam. Sementara banyak penduduk di sekitar rumah yang berprofesi sebagai pedagang di pasar atau pedagang di tempat lainyang memerlukan bahan-bahan baku dari pasar tradisional itu. Maka lalu lintas orang dan barang pun tidak pernah berhenti melewati depan rumah menuju atau pulang dari pasar. Lalu lintas kendaraan di jalan utama pun tidak pernah sepi. Banyak para pedagang di pasar tradisional itu mengambil barang kulakan dari sebuah pasar induk yang ditempuh dengan satu rit angkottrayekPondok Gede-Kampung Rambutan. Karena sumber pasokan barangberasal dari sana, maka ritme pasar tradisional itu pun mengikuti ritme pasar induk yang juga beroperasi 24 jam.
Malam itu sekitar pukul sepuluh malam, saya menyaksikan pemandangan yang cukup membuka mata dan hati saya. Beberapa orang tetangga yang baru saya kenal, berparade menentang bungkusan plastik dan beberapa barang yang tidak saya ketahui persis apa isinya. Semula saya berpikir mereka habis berbelanja “besar-besaran” untuk kebutuhan rumah tangga karena tidak jauh dari rumah memang banyak bertebaran pusat perniagaan yang menjajakan aneka barang kebutuhan. Hatipun jadi terusik dan bertanya karunia apakah gerangan yang menjadikan mereka bisa membeli barang demikian banyak itu.
Saya hanya menyapa singkat ketika mereka melewati depan rumah dan tidak begitu memperhatikan apa yang mereka bawa. Namun pemandangan yang terpotret sekilas itu menimbulkan beberapa kejanggalan atas dugaan saya yang pertama. Bungkusan yang mereka bawa itu bukanlah bungkusan plastik putih yang biasanya berlabel nama toko atau swalayan. Mereka juga tidak mengenakan pakaian sebagaimana layaknya untuk mendatangi tempat belanja. Saya bersangka baik, mereka bukan habis berbelanja dari pusat perbelanjaan melainkan habis berbelanja dari pasar tradisional itu. Toh untuk pergi ke sana tidak harus menggenakan pakaian yang bagus atau teramat sopan. Mengenakan kaos dan celana setinggi lutut pun jadi. Terlebih jika suasana hujan, tentu bagi mereka lebih praktis menggunakan busana yang ala kadarnya dan terkesan kumal karena harus berjibaku dengan tanah pasar yang becek dan kotor.
Ketika saya berjumpa, wajah mereka terpancar menyiratkan rona penuh suka cita. Belakangan saya menyadari bahwa mereka baru pulang dari memulung gelas/botol air mineral yang berserakan di sekitar pasar atau plaza. Saya mengetahuinya ketika pada suatu hari, ada mobil dengan perlengkapan timbangan gantung parkir di depan rumah. Banyak orang mengerumuni mobil dengan timbangan itu. Mereka menimbang karung berisi gelas/botol air mineral, kardus, koran atau barang loakan lainnya. Setelah dilakukan penimbangan, barang-barang itu langsung dimuat ke mobil dan ada seorang yang menyerahkan uang sebagai pembayaran atas barang yang dibeli dan diangkutnya itu.
Nuansa ceria mewarnai suasana setelah transaksi itu dilakukan. Barulah saya menyadari ternyata mereka habis bertransaksi atas barang-barang hasil pulungan, termasuk barang-barang yang mereka bawa setiap malam sehabis “berbelanja” itu. Hati saya jadi tercekat. Sungguh, mereka telah memberikan pelajaran yang berharga bagi saya.
Tidak sulit bagi Allah untuk membukakan jalan-jalan rezeki. Allah menyediakan beribu jalan rezeki bagi seseorang yang mau berusaha dan mau menjemputnya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan makhluk, tentu menyediakan pula bagi mereka takaran rezekinya masing-masing. Para tetangga yang berprofesi sambilan sebagai pemulung itu, adalah salah satu contoh saja. Betapa barang-barang itu yang bagi orang lain terasa jijik untuk menyentuhnya atau menjadi barang yang terbuang sia-sia, ternyata mendatangkan keberkahan tersendiri bagi mereka. Darinya mereka bisa mempertahankan hidup, darinya mereka bisa memenuhi kebutuhan, dan darinya mereka bisa merasakan nikmatnya bersyukur. Subhanallah.
Kadang timbul rasa malu diri ini kepada mereka. Mereka yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa, tidak makan bangku sekolahan, tidak terdidik layaknya kita, tetapi mereka lebih yakin akan jaminan rezeki dibanding kita. Banyak dari kita yang kadang stress memikirkan sumber penghasilan, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Banyak pula di antara kita yang kehilangan akal sehingga terpaksa menempuh cara-cara yang tidak sesuai dengan norma agama. Andai kita tahu, sebenarnya kita hanya diperintahkan untuk berusaha atau bekerja saja. Sedangkan hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Banyak atau sedikit hendaknya diterima dengan ridha. Masalah sering muncul tatkala kita menginginkan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu belum tentu terbaik bagi kita.
Para “pemulung” tetangga rumah saya itu, hidup tenang dan tentram karena tidak mempersoalkan kesulitan rezeki dan menyambut karunia Allah itu dengan sikap ridha. Tidak mempersoalkan rezeki bukan berarti tidak mempersoalkan berusaha. Ia adalah sebuah keharusan, dan menjadi prosedur wajib bagi datangnya rezeki. Kita dianjurkan untuk berfokus pada ketaatan dan ibadah, sebab misi itulah yang kita sandang sebagai manusia dalam kehidupan ini. Rezeki adalah otoritas Allah. Dengan berfokus pada ketaatan, maka secara otomatis, rezeki akan mengalir sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Mencari kerja (bagi mereka yang masih nganggur) adalah sebentuk ketaatan dan ibadah, mereka yang pergi berniaga ke pasar, pergi ke kantor, berkeliling menjajakan barang dagangan adalah juga sebentuk ketaatan dan ibadah, dan segala macam ikhtiar yang diniatkan kepada Allah adalah sebentuk ibadah.
Manusia yang berfokus pada ibadah dan ketaatan (berfokus pada proses) tentu beda dengan orang yang berfokus pada hasil. Mereka yang berfokus pada proses, tentu akan menjaga agar proses yang dijalani adalah benar sesuai ketentuan Allah. Sedangkan mereka yang berfokus pada hasil, boleh jadi upaya-upaya terpuji akan dike sampingkan demi meraih apa yang diimpikan.
Mereka yang berfokus pada ibadah dan ketaatan, ketika mendapat rezeki melimpah pun, mereka tetap terkendali dan tidak takabbur. Sahabat Rasulullah seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan, adalah orang-orang yang dikaruniai kekayaan dan keagungan harta oleh Allah. Namun demikian, mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah Saw karena keagungan akhlaknya. Mereka juga dicintai orang-orang miskin karena mereka tidak takabbur dengan hartanya dan membelanjakan sebagian besar kekayaannya untuk kepentingan dakwah dan ummat.
Bila harta itu jatuh kepada mereka yang memang berorientasi kepada kekayaan semata, tentu akan lain hasilnya. Boleh jadi ia akan takabbur dan menjauh dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Kisah Tsa’labah di masa Rasulullah Saw dan kisah Qorun di masa Nabi Musa, adalah salah satu bukti tentang akibat dari orang-orang yang berfokus pada kekayaan semata bukan kepada ibadah atau ketaatan. Pada akhirnya mereka akan tumbang karena berdiri di atas pijakan yang lemah.
Sungguh banyak hikmah yang saya peroleh dari para “pemulung’” itu. Allah sanggup memberikan rezeki tanpa batas kepada hamba-Nya. Kaya atau miskin adalah ujian kehidupan. Jika kita berfokus pada ibadah atau ketaatan maka status itu pun menjadi kurang relevan karena bagi orang beriman baik dalam kondisi kaya atau pun miskin tetap harus mencurahkan pengabdiannya kepada Allah SWT. Kenapa bisa demikian? Karena bagi orang beriman, rezeki tanpa batas yang sebenarnya adalah bukan yang di dunia melainkan di akhirat, yaitu ketika ia dimasukkan ke dalam surga karena ibadah dan ketaatannya di dunia.
Ya Allah karuniakan kami dengan Iman, karuniakan kami dengan rezeki-Mu yang tanpa batas. Amin.
Waallahua’lam bishshawaab [rizqon_ak@eramuslim.com]
Jumat, 04 Juli 2008
(mau kasih judul apa ya?)
Bro, ada kabar terbaru nih (walau gak baru-baru amat sie..), Alhamdulillah kelurga besar kita nambah lagi dengan lahirnya anak dari leleh (tepatnya aku lupa), yang pasti mereka saat ini sedang berbahagia. Selamat ya... (bahkan namanya juga aku belum tau, soalna kita juga dah lama gak ngumpul lagi nie...). Woi.... temen-temen pusat kapan ngumpul dong???
Dan menurut rencananya andriyanto -kondor- bakalan menikah di hari ulang tahun kemerdekaan indonesia tahun ini!!! we..... kita tunggu undangannya aja ya...
Dan menurut rencananya andriyanto -kondor- bakalan menikah di hari ulang tahun kemerdekaan indonesia tahun ini!!! we..... kita tunggu undangannya aja ya...
Rabu, 02 Juli 2008
Tampilan yang tak berubah
huah.... pasti dah pada bosen ngeliat blog yang gak berubah-ubah selama satu bulan ini. Aku gak tau gimana ngejelasinnya, tapi emang begitu lah adanya. Bermula dari koneksi internet kantor yang kayak kura-kura (karena saking banyak yang make, lha wong satu kantor pusat, :(, akhirnya lama-lama timbul juga rasa males... huah... tu kan ...
tapi aku akan terus mencoba dan mencoba semoga blog ini gak jalan di tempat terus. doakan semua ya teman-teman.... BANZAI!!!!
tapi aku akan terus mencoba dan mencoba semoga blog ini gak jalan di tempat terus. doakan semua ya teman-teman.... BANZAI!!!!
Langganan:
Komentar (Atom)